langit tak berujung

 




Tentang perpisahan abadi


Raut senyum yang ku ingat

Ketangguhan yang sering kou perlihatkan

Semuanya jelas terekam di dalam benakku

 

Satu hal yang tak te terka

Ternyata kamu sudah tiada

Meninggal kan dunia yang begitu fana

 

Kini kamu sudah tenang

Bebanmu sudah hilang

Namun satu penyesalan yang tersirat

 

Begitu naasnya diriku tak bisa hadir pada hari terakhir mu

Maaf itu yang bisa ku ucap

Doa ku selalu ada untukmu

Rabu 26 Maret 2024

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perobek kepercayaan

 

Sayup-sayup kekeliruan

Membentang pada celah-celah kepercayaan

 

Satu dusta hinggap di lisanmu

Mampu meluruhkan seribu kepercayaan yang di bangun oleh mu

Kebohongan demi kebohongan kou utarakan

Demi menyumbat kesalahan-kesalahan yang kou torehkan

 

Tapi, taukah kamu ?

Waktu tak pernah berhenti berlalu.

 

Semua kesalahan yang kou tanam dengan kebohongan

Akan terhempaskan dengan tumbuhnya keraguan

Hilanglah kepercayaan

Hingga yang hinggap adalah penyesalan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

See you ramadhan


Senandung takbir berkumandang

Di temani gerimis hujan yang kian mengguncang

Seakan baru kemarin kita mengucap selamat datang

Dan tak terasa hari ini kita berada d penghujung Ramadhan

 

Waktu yang terus berputar menit demi menit detik demi detik

Perputaran waktu terus bergulir hingga akhirnya kou memutuskan untuk pulang

Begitu lama kou pergi dan akan kembali 11 bulan yang akan datang

 

Walaupun pertemuan kita singkat namun dirimu begitu memikat

Namun aku tak rela melepas mu pergi

Karena debu nista masih kotori hati

Besok hari kemenangan tapi diriku masih saja menoreh  kesalahan

Lantas Benakku berkata apakah diriku akan bertemu dirimu lagi

 

Ya Rabb

Ramadhan sudah hendak berangkat

Namun diriku masih terlena dengan maksiat

Ramadhan sudah di penghujung

Namun raga ini masih sibuk dengan alasan dunia yang tak berujung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sore kala itu

 

Sore ini aku menuliskan sebuah bait puisi

Yang isinya sepenuhnya tentang betapa ku merindukanmu

 

Hujan gerimis di sore ini

Cukup membuat ku terhanyut akan semua memori tentang kita berdua

Tentang begitu manisnya kata-kata mu

Sikap dirimu dan juga seluruh perhatian dirimu yang kamu lakukan untuk ku

Kenangan kita bersama hujan waktu itu

Begitu candu di dalam sanubari ku

 

Namun terkadang aku juga begitu membenci sore hari

Karena ada masa  di suatu sore dirimu melayang kan sebuah kata-kata kasar kepada diriku

Terkadang aku juga bingung apa kesalahan ku sehingga kamu berani mengatakan hal itu

Apakah aku sejahat dan sebobrok itu???

 

Bahkan setelah dirimu mengatakan hal itu aku tak kunjung mendapatkan secercah kata maaf pada dirimu,

Entah dirimu yang tidak mendapatkan secercah penyesalan entah diriku yang pantas mendapatkan layangan kata itu......

 

Padahal kala sore itu hatiku begitu terkeroyok terhempas dengan kata yang membuat ku hancur ...

Lebay baperan mungkin itu adalah kata yang akan kamu hardikkkan kepada diriku

Namun percayalah kata itu mampu mengubah pandangan ku terhadap dirimu

 

Meskipun sampai hari ini aku mengharapkan mu

Datang Dan kembali untuk memperbaiki yang telah terjadi .......

 

 

 

 

Pergi tanpa pamit

 

Malam yang sunyi

Ditemani dinginnya angin yang merusuk tulang dan ragaku

Benakku sedang merasakan luapan kesedihan

Mengingat betapa sulitnya mengikhlaskan tanpa adanya perpisahan

 

Lantas benakku berbicara sejahat itukah diriku sehingga kamu pergi tanpa alasan yang terpatri

Kemana hilangnya semua ucapan dan janji manismu itu

Apakah hilang oleh waktu

Atau itu hanya caramu yang ingin menipu diriku

 

Kau jahat seperti kaca yang mengiris ulu hati

Kau pandai  membuat bauayan manis yang membuat ku terbang setinggi-tingginya

dan kou juga membuat pandai  menunjukkan sifat yang menjatuhkan diriku sejatuh jatuh nya

Hatiku terus bertanya di anggap apa diriku ini

 

Apakah diriku kou anggap sebuah layangan yang engkau terbangkan dan engkau mainkan sepuas hatimu

Diriku sungguh bingung akan semua sifat mu

Satu pertanyaan ku

Apakah kou benar- benar mencintaiku atau hanya merasa kasihan terhadap diriku

Ha ha jika memang tidak cinta apakah yang kemarin – kemarin hanya sandiwara

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencari ketenangan

 

Ketika riuh mulai menjalar di kepala

Senandung hati berusaha mencari ketenangan

Raga terlihat tenang namun jiwa seakan gentayangan

 

Lantas benakku berkata :

”kemanakah aku harus berlari?

“aku terjebak dalam ruang kegelisahan

 

Aku terus berlari kesana kemari Terus mencari solusi

Namun hati dan kepala ini tak kunjung mendapatkan ketenangan

Seolah jiwa kian hiang dengan raga

 

Aku memutuskan untuk berhenti berlari dan aku menyerah

Namun serpihan cahaya hinggap di benakku

Aku tercengang aku sadar aku tak perlu lagi mencari ketenangan

Karena ketenangan selalu terpatri dalam setiap keadaan

Kita hanya perlu berdamai dengan keadaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelelajah hening

                                                      

Dalam sunyi malam, bulan bersinar lembut,

Bintang-bintang berkelip, menari dalam hening,

Kehidupan sering kali menghadirkan liku-liku,

Namun di balik awan kelabu, harapan bersemi.

Berjalan di atas jalan berkerikil tajam,

Pijakan kadang goyah, rasa hati terombang-ambing,

Namun, dalam setiap langkah yang tak pasti,

Ada pelajaran tersembunyi, menanti untuk dipahami.

 

Tak selamanya matahari bersinar cerah,

Kadang hujan datang, menyejukkan jiwa yang lelah,

Menerima segala yang datang, tanpa berontak,

Menemukan kedamaian dalam setiap detik yang ada.

 

Berdamai dengan keadaan, bukan berarti menyerah,

Melainkan memilih untuk mengerti, menerima, dan ikhlas,

Setiap luka adalah bagian dari perjalanan,

Setiap air mata adalah bait dalam puisi kehidupan.

 

Dalam detak jantung yang berirama tenang,

Kita belajar menemukan makna dalam kepedihan,

Seperti embun pagi yang menempel pada daun,

Kita pun dapat bangkit, meski dalam kesedihan.

Bukan berarti tidak berusaha, atau berdiam diri,

Namun memahami bahwa tak semua bisa diubah,

Menghadapi kenyataan dengan kepala tegak,

Menyambut setiap perubahan dengan hati lapang.

 

Ketika badai datang menerpa,

Ingatlah, setelah hujan akan selalu ada pelangi,

Kedamaian bukanlah tujuan akhir,

Melainkan perjalanan yang harus dilalui dengan sabar.

 

Mari kita rangkul setiap keadaan,

Seperti peluk hangat sahabat yang tak terganti,

Berdamai dengan diri, dengan dunia sekitar,

Menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.

 

Jadilah seperti Sungai yang mengalir tenang,

Menyesuaikan aliran dengan bebatuan yang ada,

Berdamai dengan setiap gelombang yang menerpa,

Menemukan keindahan dalam setiap perubahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jejak yang hampa

 

Kehangatan yang kian menghilang

Menyisakan kesepian yang mampu meluruhkan segala rasa yang tertahan

Setiap lambayan tangan dari dirimu

Mampu menggoyahkan senyuman yang berusaha ku pertahankan

Mereka menghilang pergi menjemput kehangatan dan

 

kebahagiaan yang mereka dambakan

Semilir waktu yang terus berjalan

menyisakan kesendirian

Kini ku di peluk kesepian dan juga lara

Tak ada lagi kehangatan

Yang tersisa hanyalah kesunyian

 

Lantas seseorang bertanya

Kenapa dirimu tak ikut menjemput kehangatan

Bukan ku tak ingin bahagia namun aku hanya takut......

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keliru

 

Kehangatan dirimu yang selalu ku dambakan

Ternyata semua orang mampu dapatkan

Perhatian yang selalu kou torehkan

Sangkanya hanya diriku yang mampu mendapatkan

 

 Namun ternyata diriku keliru

 Dirimu memang sebaik itu

Semua orang mampu kau jaga dengan segenap jiwa

Semua orang kamu perhatikan tanpa adanya batasan

 Semua nya kamu jaga

Kamu ramah kamu tidak salah

Hanya aku yang ternyata hilang arah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jejak langkah

 

Waktu demi waktu kian berputar

Menyisakan kenangan yang tak pernah tertukar

Sedih bahagia telah kamu lewati

Menyisakan kenangan yang selalu terpatri

 

Haii gadis ceria bermata bening......

Selamat dirimu telah berhasil menjelajah waktu

Tak akan ada yang tau

Bagaimana lelahnya dirimu menyembunyikan rasa takut itu

 

Dirimu terus menari di atas kenangan

Yang kadang mencekam dan terkadang membahagiakan

Dirimu terus menerus berlari

Meskipun belum tau tempat untuk berhenti

Perjalanan mu tak akan berhenti di sini

 

Teruslah berjalan untuk mengejar mimpi

Hingga sapaan hayat datang untuk mengakhiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memutuskan pergi

 

Aku tidak ingin menjadi batu yang menghalangi jalanmu

Namun aku juga tidak ingin membiarkan diri

Mungkin kou punya arah hidup sendiri

Aku tak akan pernah menjadi penghalang dalam hidupmu

Aku  tau melihat dari berbagai postingan mu yang menunjukkan bahwa dirimu ingin berubah

 

 Aku tau tuan kamu ingin berubah tapi

 Tapi taukah kamu tuan setidaknya terucap selamat tinggal dari lisanmu

 Andai waktu bisa ku putar Mungkin tak akan ada luka yang tergores

Kini ku hanya bisa berharap

Kau menemukan kebahagiaan

Yang kau cari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terasing

 

Tentang rasa yang terbelenggu

Yang terperangkap dalam ruang dan waktu

Rasa yang tak mampu tersampaikan

Meskipun rindu begitu menggebu

Tiap senyumanmu terekam manis di pikiran ku

Dirimu begitu candu dalam benakku

Tapi tahukan kamu

Perasaan rindu ini tak bisa ku bendung

Apa alasanmu pergi

Apakah sifatku terlalu rumit?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terbelenggu rindu

 

Kepergianmu kala itu menimbulkan sejuta pertanyaan

 di benakku seburuk itukah diriku

 Hingga kau memutuskan menjauh dariku

Atau diriku yang terlalu dalam berharap padamu

 

ketika aku ingin kembali menyapamu

 diriku selalu tertampar oleh sifatmu yang selalu menghindar

 

apakah ini akhir dari kisah yang kita rangkai?

akhir yang belum menemukan titik usai ?

akhir yang menghadirkan berbagai pertanyaan

 

mungkin benturannya terlalu keras hingga sepatah maupun tak lagi berguna

 Tuan pantaskah diriku merindukanmu

rasa ini terus terbelenggu hingga tak menemukan titik celah untuk menunggu

aku tidak tahu isi hatimu setidaknya diharapkankah diriku


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepingan mimpi


 

Hilang bak bayangan yang terenggut oleh malam

 Melesat bagaikan kilat yang terus menghantam

 Pendirianku mulai runtuh

 Menjadi musuh yang kian gemuruh

 

Aku berusaha bangkit dari ketidakwarasan

Yang seakan perlahan menghantam

Gentayangan- gentayangan kesunyian

 Berputar bak melodi yang terus berkumandang

 

 Ku berdiri mencari celah walau tak pasti

 Ku berlari diantara ribuan  caci yang terus menusuk ke dalam hati

Ku berusaha melawan walau semuanya terasa kelam

Terbuai oleh angan

 Terhempas oleh kenyataan

 Hingga yang tersisa hanyalah kepingan-kepingan untuk diriku bertahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terjebak rasa


Tentang rasa peduli yang kian terpatri

 Tentang rasa sayang yang berusaha ku tahan

 Tentang getaran rindu yang tak dapat terbelenggu

 

Aku di sini berusaha menahan semua rasa yang tertahan

Aku di sini berusaha untuk abai akan semua perhatian-perhatian dirimu

 

walau nyatanya dirimu tak semanis dan hangat dulu

 Setelah perpisahan waktu itu

 

Aku sadar mengabaikan dan berusaha menghilangkan namamu dari benakku

 Ternyata sesulit itu

 Bahkan senyuman manis dan tatapan teduhmu  itu

Begitu indah berputar, berirama, di dalam benakku

 

 Semakin ku berusaha mengabaikanmu

Bayanganmu semakin jelas dalam pikiranku

Sungguh kali ini aku tak bisa mengelak

 Sungguh kali ini aku kalah

 

Diriku terbelenggu dalam gejolak rindu

Sungguh dirimu begitu candu  dalam sanubariku

 Hanya doa yang mampu aku utarakan

Untuk dirimu yang paling kusayang

 

 

 

 

 

 

Ilusi


Di ambang pintu itu

Langkahku perlahan terasa kaku

Ragu mulai menjerat

Membisikan ketakutan yang begitu mengikat

Mimpi kian mengundang

Namun bayangan kegagalan terus berguncang

Ingin ku terbang tinggi

Namun sayapku tak sanggup untuk memulai lagi

Kini Semuanya jadi ilusi

Penyesalan kian terus menghampiri

Lantas bagaimana cara ku memulai kembali?

Akankah ada waktu untuk memulai kembali?

Memulai semua harapan yang hampir hilang

Mengumpulkan keyakinan yang pernah menghilang

Tuhan tolong bantu aku untuk memulai kembali.......

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 pesona yang tak luruh

 

Arunika yang ku dambakan

berhasil meluruhkan renjana yang selama ini ku pertahankan

Dirimu bak cahya chandra yang begitu birawa

Pesona anhida dirimu begitu akral sehingga akara mu tak kian hlang dari benakku

Dirimu begitu niskala hingga  diriku gentar tuk menggurat asmaradhana bersamamu

Lidahku terlalu kelu dalam rapal takjub  yang tak kian hirap

Saat dirimu hirap dalam bayangku

Perlahan harsa mulai hirap

Yang semula hiruk kini semuanya hampa

Seolah akara yang abinawa lenyap  begitu saja





Dekapan Rahmatmu


lantunan dzikir berkumandang 

menjadi penenang yang tak pernah tergantikan

seketika hati ini tergetar 

ketika lisan menyebut namamu yang begitu besar

tak ada lagi pelarian yang begitu indah 

selain penghambaan ketaatan dalam ibadah 


Ya raab...

Terkadang diriku lupa

terlalaikan akan nikmat dunia yang begitu fana

namun, kasih sayangmu begitu luas

Hingga tak pernah sesaatpun dirimu membuatku terhempas

terhempas, terperangkap dalam nikmat dunia yang begitu memikat


Bisikan dirimu yang begitu syahdu 

berhasil membuatku kembali kepadamu 

seluruh indraku seketika merindu

hingga namamu terukir dalam sanubariku 

tiada goresan takdir yang begitu indah 

selain bersandar pada namamu yang mulia 




Tatapan yang tertinggal


Ini kali keduanya ku bertemu denganmu 

mengapa selalu sinar matamu yang begitu candu 

meskipun pertama  bertemu rasa  begitu lama 

entah mengapa dirimu bisa terdiam dalam rasa yang terasa ambigu

meskipun kita tak pernah saling bertukar kata 

bahkan tak pernah satu  waktu untuk ujar sapa

tetap selalu bayangmu yang ku terka

ingin sekali diriku menyapa 

ingin sekali diriku  tahu tentang namamu yang masih asing

namun diri ini hanya bisa bungkam 

melihat dirimu dari kejauhan 

serta menyimpan dirimu lewat bait aksara




Harsa


Entah mengapa Harsa ini seolah sirna

Lenyap terlahap lesu yang perlahan hinggap 

Lantas bagaimana cara mengundang kembali Harsa?

Jika ragu seolah mencekam begitu saja . 


Kamis, 6 februari 2025

 

 Tempat ini Saksi Mimpi  

Tempat ini 

tempat yang seolah menjadi saksi 

saksi bagi diriku yang semula hanya berlabuh 

kini menjelma menjadi ruang bertumbuh

 

Tempat ini

Tempat yang semula llusi

kini terjalin untaian memori 

 

Tempat ini 

Tempat yang semula ragu berpijak

Hingga diri mampu mengukir jejak

Mula- mula langkah bergetar 

Menciptakan mimpi mimpi yang perlahan mekar 


Meski tak ada darah yang sama 

Namun jiwa-jiwa saling menyapa

Disinilah semuanya bersemi 

menghantarkan cahaya bagi Nurani 


pondok yumna kamis 06 februari 2024





Sajak  Penunggu Hujan 


Apakah hujan ini akan berhenti ?

Gumam batinku tatkala menunggu hujan reda 

Lantas mengapa kamu tidak beranjak pergi dari sana 

Entah apa hanya saja diriku ingin merasakan indahnya bersua

Mungkin sebentar lagi gumamku membisikkan ku

Tp sepertinya akan ada hujan yang panjang 

Ragu ku kian menjerat ku 

Lantas apa yang harus aku lakukan 

Bertahan atau pulang dengan guyuran hujan 

 

 

Berusaha mengenalmu  

Diantara rak rak sunyi diriku membeku
Diriku tak berdaya berdiri bersebelahan dengan dirimu
Suaramu mengalir bak senandung
Meninggalkan jejak yang terasa begitu ambigu 


Pertemuan pertama kita yang menjadi tanya
Mampukah dirimu dan diriku bersatu?
Berjalan dan berlari bersama  menyusuri waktu 


Ingin ku menyapa
Inginku sekedar berbagi kata
Namun lidah mengkhianati hati
Diam menjadi bahasa yang tak pernah ku pahami 


Meskipun begitu
Tetap mataku selalu mencari jejak keberadaan mu
Perlahan kini ku telusuri bayangmu
Berusaha membaca jejak demi jejak yang menjadi langkah mu 


Aku tahu ini gila, aku tahu diriku terlalu fana.
Tapi mengapa engkau tak kunjung beranjak dari benakku?


Garut,8 maret 2024

 

Jeda antara kita 

 

Bukan tak ingin berbagi tawa 
Hanya saja canggung menjerat 
Bukan tak ingin mengungkap tanya 
Hanya saja asing di rasa 
Meskipun kita pernah satu sua 
Tetap saja lidahku terlalu Kelu tuk merangkai kata

 

Garut, 25 februari 2025

 


Komentar